Seorang pemuda mengendap-endap memasuki sebuah rumah. Dilihatnya semua tempat – tempat yang umumnya dipakai untuk menyimpan perhiasan permata. Satu per satu dia buka hingga akhirnya dia dapatkan apa yang dia inginkan.
Seorang pemuda itu MENGERTI bahwa mencuri itu tidak benar, mencuri itu merugikan orang lain, mencuri itu tidak baik, mencuri itu beresiko dipenjara, dll. Tapi mengapa dia tetap mencuri? Jika dia tidak tahu, maka dia tidak akan mencuri dengan mengendap-endap. Jika dia tidak tahu, maka dia akan mencuri dengan terang-terangan.
Jika kita mau menelaah lebih dalam, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa mengerti akan baiknya sesuatu belum tentu membuat kaki kita bergerak untuk menggapainya. Semua orang mengerti bahwa olahraga sangat baik untuk kesehatan, tapi tidak semua orang mau berolahraga. Semua orang mengerti bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan, tapi sedikit orang yang mau berhenti merokok (termasuk saya).
Ada sesuatu hal lain yang membuat hati kita memutuskan untuk menggerakkan kaki kita untuk menggapai sesuatu atau tidak. Mengerti bahwa olahraga itu baik buat kesehatan saja tidak cukup untuk membuat kita berolahraga. Mengerti bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan saja tidak cukup untuk membuat kita tidak merokok. Merokok adalah kenikmatan, tidak merokok juga kenikmatan (lebih sehat daripada merokok). Olahraga adalah kenikmatan (lebih sehat daripada tidak olahraga), tidak berolahraga juga kenikmatan (tidak capek). Bahkan mencuripun kenikmatan (mendapatkan sesuatu tanpa susah payah/instant), tidak mencuripun juga kenikmatan. Tergantung kita mau memilih kenikmatan yang mana (segala puji bagi Allah yang maha pengasih dan penyayang yang memberikan berbagai pilihan kenikmatan).
Kenikmatan merokok sangat jelas dan nyata (para perokok sangat mengerti ini), tidak berolahraga juga jelas dan nyata (tidak capek), mencuri juga jelas kenikmatannya (mendapatkan sesuatu tanpa susah payah). Sebaliknya, kenikmatan tidak merokok tampak samar2 dan tidak kita sadari. Begitu juga olahraga dan tidak mencuri, kenikmatannya juga samar2 dan umumnya bersifat jangka panjang. Mungkin ini kuncinya, manusia senderung menyukai kenikmatan yang di depan mata.
kenikmatan jangka panjang cenderung lebih baik daripada kenikmatan jangka pendek. Sepertinya ini memang hokum alam yang tidak dapat disangkal karena hokum ini juga berlaku dalam berbagai sisi kehidupan, seperti investasi jangka panjang yang memberikan nilai yang lebih besar daripada investasi jangka pendek (future value selalu lebih besar daripada present value).
Kebetulan topic ini ditulis saat bulan Ramadan yang jika dikaitkan akan sangat selaras dan sejalan (Allah maha tahu akan segala sesuatu, termasuk permasalahan manusia ini). Puasa melatih kita untuk menahan kenikmatan jangka pendek agar mendapatkan kenikmatan jangka panjang yang pada umumnya lebih baik.
Kebetulan topic ini ditulis saat bulan Ramadan yang jika dikaitkan akan sangat selaras dan sejalan (Allah maha tahu akan segala sesuatu, termasuk permasalahan manusia ini). Puasa melatih kita untuk menahan kenikmatan jangka pendek agar mendapatkan kenikmatan jangka panjang yang pada umumnya lebih baik.
Jadi… Mengerti harus dibarengi dengan kesabaran menahan kenikmatan jangka pendek untuk mendapatkan kenikmatan jangka panjang yang cenderung lebih baik.